Skip to content

Latah…

“Jangan ngimpi deh dapetin anaknya Pak Haji..coba lu inget, kapan terakhir lu sholat?”

Mungkin untuk sebagian besar orang dialog sebuah commercial break tersebut bisa membuat mereka tersadar. Tapi bagi saya, iklan tersebut tidak jauh berbeda dengan commercial break sampah lainnya…

Apakah Hablumminallah mutlak menentukan kelangsungan Hablumminannas? Sehingga sampai ada judgement jika tidak sholat maka tidak bisa mendapatkan hati anak Pak Haji (dalam kasus ini)? Apakah ibadah seseorang menjamin orang tersebut mendapatkan banyak teman dan saudara? Mungkin jawabannya YA apabila hubungan sebab akibat dan conditional itu ditulis dalam larik bahasa C atau Perl atau apalah.

**Maka bersyukurlah kalian wahai para geek :D

Manurut saya, ibadah itu urusan seseorang dengan Rabb-nya, jadi silakan anda diam dan biarkan Tuhan yang menentukan, apakah seorang yang terlihat rajin sholat, puasa, dan dzikirnya mutlak jauh lebih mulia daripada seorang kafir yang memberikan penghidupan kepada anak yatim, menyediakan tempat ibadah bagi mereka, dan menjamin keselamatan mereka?

Maaf..saya tidak bisa menjawab karena saya bukan Tuhan dan saya tidak berwarna merah…

phailed

Ternyata tidak cukup hanya dengan “time management” dan “self discipline” saja. Saya masih butuh belajar tentang manajemen konsentrasi, masih butuh belajar tentang prioritas, masih butuh belajar tentang ikhlas.

Maaf untuk banyak hal yang tertinggal, terbengkalai, atau bahkan sama sekali tak tersentuh. Maaf untuk harapan-harapan yang tak terealisasi…

** This is totally my bad..i owe you guys…

still

Cukup lama juga tidak belajar menulis di sini, kesibukan bukan sebuah pembenaran yang bisa terus-menerus saya gunakan. Mungkin ada baiknya saya mengakui kalau pada dasarnya saya memang malas menulis :p

Sekedar flashback, mungkin masih ada yang ingat ketika saya berkata seperti ini :

“Saya lebih memilih menjadi petinggi di kerajaan kecil dan miskin daripada menjadi rakyat jelata yang hidup sejahtera di kerajaan besar nan kaya raya.”

dan…

“Cobalah sampai kamu bosan, berusahalah sekuat tenaga sampai kamu benar-benar menyerah..karena pada dasarnya seorang pengrajin tidak akan pernah menjadi seorang seniman.”

Silahkan bilang saya sombong, silahkan sebut diri saya besar kepala..ya, memang saya sombong pula congkak…

!Escape

Saya ini hanya manusia biasa, yang pada saatnya mungkin lebih memilih untuk menyingkirkan sumber masalah daripada mencari solusi dari masalah tersebut.

FlashBack

Wajar bila terucap namamu malam ini
Bukan sekedar tanya dalam diri sendiri
Serasa terlintas lalu
Wajah yang kian menawan

Saat waktu berlalu anginpun terasa sendu
Senyuman yang termimpi makin terasa kini
Serasa terlintas lalu
Wajah yang kian menawan di hati

Ku ingin hanyut dalam pelukanmu
Ku ingin cinta hanya dari dirimu kasih

** dapat dinikmati di sini

Lagu pertama yang membuat saya bisa menikmati musik setelah era Queen dan Iwan Fals, lagu pertama yang membuat saya mati-matian ingin belajar bermusik, dan lagu ini secara fatal membuat saya menempatkan GIGI sebagai group musik terbaik di Indonesia…

Dan setelah sekian lama, baru malam ini saya mendengarkan setiap detil nada di lagu ini…

masih tetap indah… :)

Corny…

Bagaimana rasanya menjalin hubungan selama 8 tahun, dan belum ada kejelasan kapan akan melanjutkan hubungan tersebut ke jenjang pernikahan? Mungkin untuk saya hal itu tidak terlalu menjadi masalah, tapi apakah dia dan keluarganya juga tidak menjadikan ini sebagai sebuah masalah?

Dari 8 tahun, 6 tahun hubungan kami berjarak >400km dan memiliki frekuensi sekali dalam 2 bulan..saya hanya ingin memperpendek jarak itu menjadi 0 s/d 15 meter dan memperbesar frekuensi tersebut setidaknya menjadi 12 jam dalam sehari…

Menikah itu ibadah, dan mungkin ibadah yang belum pernah saya jalani selama hidup ini hanya dua hal.. menikah dan naik haji.. saya tidak tahu berapa lama lagi saya hidup di dunia ini..dan saya yakin akan menyesal kalau belum bisa menuntaskan dua ibadah tersebut…

Jadi alasan saya untuk menikah bukan “sekedar” karena nafsu yang tak terbendung atau sudah tidak sabar untuk belah duren saja ;)

Tidak sedangkal itu kawan…

Dawn…

apakah salah kalau saya mengatakan cukup? karena kondisi yang sudah semakin membuat saya tidak nyaman..atau mungkin karena saya sudah terlanjur melihat semuanya jadi salah? entahlah…

tapi yang pasti..saya butuh sesuatu yang baru..sesuatu yang tidak membuat saya puas dan terus berada disini..sesuatu yang bisa mengajarkan saya arti kata ikhlas di atas kata professional…

Quote #2

Barusan saya meminta tips n trick dari seorang teman yang bisa dibilang sukses (at least dalam pandangan saya), dan kebetulan suasana hati teman saya itu sedang bagus sehingga dia memberikan satu wejangan yang saya rasa pantas untuk saya tulis disini…

“krn rejeki itu bukan tergantung tempat kita kerja, tp nempel di badan kita nya”

no doubt… :-bd

/me

Akhirnya ada waktu untuk sekedar iseng mencoba personality test ini, thanks buat avank yang sudah berbagi link tersebut :)

Your view on yourself:

You are down-to-earth and people like you because you are so straightforward. You are an efficient problem solver because you will listen to both sides of an argument before making a decision that usually appeals to both parties.

The type of girlfriend/boyfriend you are looking for:

You are not looking merely for a girl/boyfriend - you are looking for your life partner. Perhaps you should be more open-minded about who you spend time with. The person you are looking for might hide their charm under their exterior.

Your readiness to commit to a relationship:

You prefer to get to know a person very well before deciding whether you will commit to the relationship.

The seriousness of your love:

You like to flirt and behave seductively. The opposite sex finds this very attractive, and that’s why you’ll always have admirers hanging off your arms. But how serious are you about choosing someone to be in a relationship with?

Your views on education

You may not like to study but you have many practical ideas. You listen to your own instincts and tend to follow your heart, so you will probably end up with an unusual job.

The right job for you:

You have plenty of dream jobs but have little chance of doing any of them if you don’t focus on something in particular. You need to choose something and go for it to be happy and achieve success.

How do you view success:

You are confident that you will be successful in your chosen career and nothing will stop you from trying.

What are you most afraid of:

You are concerned about your image and the way others see you. This means that you try very hard to be accepted by other people. It’s time for you to believe in who you are, not what you wear.

Who is your true self:

You are full of energy and confidence. You are unpredictable, with moods changing as quickly as an ocean. You might occasionally be calm and still, but never for long.

Sedikit aneh, mengingat beberapa personality test yang sudah-sudah dimana hasilnya hanya cukup membuat saya tersenyum geli. Tapi yang satu ini..hmmm..cuman ada dua point yang meleset (atau saya belum menyadari? atau mungkin saya terlalu gengsi untuk mengakui? entahlah..hehehe…).

Invisibility

Ada dua sisi yang saling bertolak belakang yang saya rasakan ketika menjadi melakukan sesuatu secara “invisible” atau lebih dikenal dengan bekerja dibalik layar. Sisi pertama yaitu fun dan aman..ketika kita berbuat sesuatu baik itu “benar” atau “tidak benar” kita bisa lepas tangan, bebas tanggung jawab, dan hidup dengan tenang. Terdengar sedikit licik? Ya, memang…

Akan tetapi ketika invisibilitas tersebut diterapkan di dunia kerja, yang saya dapatkan hanyalah kesadaran kalau kelicikan saya di atas dibalas disini. Ketika kita sudah bekerja keras, ketika kita menemukan sesuatu, ketika kita berhasil manyelesaikan masalah, ketika kita rela mengorbankan waktu tidur dan liburan untuk urusan pekerjaan, akan tetapi reward ataupun credit point justru didapatkan oleh orang lain..is it fair?

Ah sudahlah, sepertinya ini memang salah saya ketika saya sudah merasa paling bisa dan merasa lebih, saya jadi menginginkan sebuah penghargaan dan pengakuan.

Mungkin ada baiknya mulai sekarang saya bisa memisahkan antara profesionalisme (yang tentunya butuh visible action demi sebuah nama dan kepercayaan yang pada akhirnya akan menentukan jenjang karir) dan juga idealisme (sejujurnya, saya benar-benar menikmati pekerjaan di balik layar itu).